Koleksi Artikel
Kumpulan pemikiran, riset inovatif, dan publikasi terbaru mahasiswa pariwisata yang siap mengubah pandangan Anda.

Mengapa Investasi Bukan Langkah Pertama dalam Manajemen Finansial

Masjid Gedhe Mataram sebagai Daya Tarik Wisata Religi Berbasis Warisan Budaya

Kuliner Tradisional Khas Kotagede yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Antara Devisa Dan Daya Dukung

3000 Langkah Menapaki Jejak Budaya Melalui Jogja Internasional Heritage Walk
Artikel Terbaru
14 ArtikelMelangkah di Antara Dua Dunia: Pengalaman Berkesan Walking Tour Misteri JJK X Dewikerten
Pernakah kita sadari bersama? terkadang rasa penasaran manusia dapat mengalahkan ketakutan akan suatu hal yang imaji. Alih-alih berlindung dalam kata takut, sebagian besar justru mencari dan menikmati perjalanan melalui pengalaman berinteraksi bersama “mereka”. Kini kami (tim penulis) mencoba mengulas daya tarik wisata misteri atau dark tourism pada sebuah paket wisata tematik terbaru yang di usung oleh komunitas Jalan-Jalan Kliwon bersama Desa Wisata Wirokerten., menulusuri jejak sejarah yang di tinggalkan lalu menjahitnya kedalam rangkaian cerita misteri yang membekas. Lini masa berbicara bahwa wisata misteri yang di kemas dalam konsep dark tourism telah menjadi tren yang di gandrungi banyak orang di setiap tahunnya. Secara pesat, konsep wisata ini dapat menarik hati kalangan muda karena menawarkan sesuatu hal berbeda yang lepas dari konsep lampau berwisata secara umum. Motivasi yang muncul terbentuk dari keinginan untuk menggali serta memahami cerita di balik suatu tempat atau tragedi yang penuh akan tanda tanya namun belum menjawab rasa penasaran penikmat. Narasi misteri di perlukan untuk menjembatani ketertarikan wisatawan modern akan rangkaian cerita yang telah usang di gerus oleh perkembangan zaman, dapat menambah keunikan dalam wisata dark tourism.

Overtourism di Kalitalang dan Dilema Kebijakan Tiket Ganda
Artikel ini membahas fenomena overtourism di kawasan Ekowisata Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sejak berkembang secara mandiri oleh masyarakat pasca-erupsi Merapi 2010, Kalitalang menjadi destinasi populer berkat viralitas media sosial. Namun, peningkatan kunjungan hingga enam kali lipat pada akhir pekan menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, infrastruktur, dan tata kelola komunitas lokal. Diberlakukannya kebijakan tiket ganda (tiket lokal dan tiket PNBP) sejak Desember 2024 menandai upaya regulasi baru oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), namun belum sepenuhnya menjawab persoalan daya dukung dan keberlanjutan. Kajian ini mengulas dilema tersebut melalui perspektif kebijakan pariwisata berkelanjutan, teori daya dukung, serta literatur terkini mengenai manajemen destinasi di kawasan konservasi.

ANTARA PELUANG DAN KETIMPANGAN: Digitalisasi Pariwisata dan Nasib Wisata Lokal di Indonesia
Transformasi digital dalam sektor pariwisata Indonesia menghadirkan peluang sekaligus risiko ketimpangan yang belum banyak dikaji secara kritis. Artikel ini bertujuan menganalisis dua sisi dari arus digitalisasi pariwisata: percepatan pertumbuhan yang tercermin dari capaian makro seperti peringkat TTDI 2024 dan lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara, serta kesenjangan struktural yang dialami oleh destinasi wisata kecil dan pelaku usaha lokal yang belum memiliki kapasitas digital memadai. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis studi literatur dan data sekunder, artikel ini menelusuri bagaimana kesiapan infrastruktur digital, literasi teknologi, dan akses platform menjadi faktor pembeda antara destinasi yang "terlihat" dan yang "tak terlihat" di peta pariwisata digital. Temuan menunjukkan bahwa meskipun Indonesia berhasil menembus posisi ke-22 dari 119 negara dalam TTDI 2024 dan mencatat devisa pariwisata sebesar USD 16,7 miliar, manfaat transformasi digital belum terdistribusi secara merata. Dari 6.016 desa wisata yang terdaftar, sebagian besar masih menghadapi kendala teknis dan kapasitas sumber daya manusia. Artikel ini berargumen bahwa digitalisasi pariwisata yang adil mensyaratkan intervensi kebijakan yang melampaui penyediaan platform meliputi pendampingan berkelanjutan, pemerataan infrastruktur internet, dan peningkatan literasi digital masyarakat lokal.

JEMPARINGAN DI DESA WISATA BATUR
Sleman — Di tengah berkembangnya wisata modern yang serba cepat dan instan, tradisi Jemparingan di Desa Wisata Batur, Cangkringan, Kabupaten Sleman, hadir sebagai pengalaman wisata yang menawarkan ketenangan sekaligus kedalaman budaya. Berbeda dengan olahraga panahan modern yang dilakukan dengan posisi berdiri dan mengandalkan presisi teknis, Jemparingan justru mengajarkan harmoni antara fokus, intuisi, dan ketenangan batin melalui posisi duduk bersila khas tradisi Mataram.

SLONDOK KULON PROGO: CITA RASA TRADISIONAL YANG TETAP BERTAHAN DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Slondok merupakan salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Kulon Progo. Slondok memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomis bagi masyarakat setempat. Makanan berbahan dasar singkong ini, telah diproduksi secara turun-temurun dan menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak diminati masyarakat. Salah satu sentra produksi slondok yang masih bertahan hingga saat ini adalah pelaku usaha di Padukuhan Duwet III, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Produksi slondok di wilayah ini masih dilakukan dengan mempertahankan resep dan teknik pembuatan yang tradisional, sebagai bentuk pelestarian warisan kuliner daerah. Selain bermanfaat sebagai produk kuliner khas, usaha slondok juga berperan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat setempat melalui penciptaan lapangan kerja dan sumber pendapatan keluarga. Di tengah persaingan dengan makanan modern, slondok tetap diminati masyarakat karena menggunakan bahan baku sederhana, proses produksi tradisional, rasa yang khas, serta harga yang relatif terjangkau. Makanan khas ini perlu terus dilestarikan karena memiliki potensi sebagai produk unggulan Kulon Progo yang mampu melestarikan budaya lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

DARI ALBUM KE PANGGUNG YANG LEBIH HIDUP: PERUNGGU SIAPKAN NARASI UTUH DI TUR “PERTUNJUKAN DALAM DINAMIKA” DI YOGYAKARTA
Perunggu, trio alternative rock asal Jakarta, menggelar tur perdana bertajuk “Pertunjukan Dalam Dinamika” di Yogyakarta pada Sabtu, 9 Mei 2026, bertempat di Jogja Expo Center (JEC) sebagai kota pembuka rangkaian tur setelah sukses merilis album kedua mereka yang bernama sama pada Agustus 2025. Mengusung konsep panggung imersif yang menyatukan permainan musik, tata cahaya, visual, dan alur narasi secara utuh, konser ini juga menghadirkan kolaborasi spesial dengan dua nama besar yaitu Eross Candra (gitaris Sheila on 7) dan Kunto Aji yang dijanjikan akan melahirkan performa sekali seumur hidup. Yang membedakan dari konser pada umumnya, Perunggu secara eksplisit mengajak penonton untuk tidak buru-buru mengangkat ponsel demi merekam dan mengunggah ke media sosial, melainkan menikmati pertunjukan secara personal terlebih dahulu sebuah seruan langka di era konten instan yang menekankan bahwa kenangan yang dalam harus dibangun sebelum dibagikan. Yogyakarta sendiri dipilih sebagai kota pembuka karena diakui memiliki ikatan emosional khusus sebagai “rumah kedua” bagi perjalanan karier Perunggu, dan melalui panggung JEC mereka tidak hanya akan membawakan lagu-lagu hits seperti “Di Udara” dan “Tentang Seseorang” dalam formasi lengkap Maul Ibrahim (vokal/gitar), Adam Adenan (bass/vokal), serta Ildo Hasman (drum/vokal), tetapi juga menceritakan proses kreatif di balik album—dari kegelisahan, kegembiraan, hingga kejujuran mentah yang menjadi DNA mereka. Pada akhirnya, “Pertunjukan Dalam Dinamika” bukan sekadar konser biasa, melainkan undangan untuk hadir secara utuh dengan kesadaran penuh tanpa distorsi layar ponsel, dan Yogyakarta dengan segala kedalaman budayanya dinilai sebagai tempat paling tepat untuk memulai narasi tersebut.

Menjelajahi Rasa Lokal Bersama Omahe Simbhok Pentingsari
Omahe Simbhok Pentingsari merupakan salah satu daya tarik kuliner yang berada di kawasan Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Omahe Simbhok tidak hanya menyajikan makanan dan minuman tradisional khas Jawa, seperti Sego Endhog, Bakmi Godhog, Wedang Gedang, dan kopi olahan lokal, tetapi juga menghadirkan suasana pedesaan yang autentik melalui bangunan bergaya joglo dan interaksi dengan masyarakat setempat. Selain menikmati kuliner, wisatawan dapat mengikuti berbagai aktivitas wisata seperti edukasi pertanian, pembelajaran budaya lokal, dan paket wisata berbasis masyarakat. Kehadiran Omahe Simbhok menjadi contoh pengembangan wisata kuliner yang mengintegrasikan aspek budaya, ekonomi, dan pariwisata. Penggunaan bahan baku lokal serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekaligus mendukung pelestarian kuliner tradisional. Konsep wisata berbasis masyarakat yang diterapkan juga memperkuat identitas Desa Wisata Pentingsari sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman autentik kepada wisatawan. Dengan demikian, Omahe Simbhok tidak hanya berperan sebagai tempat bersantap, tetapi juga sebagai sarana untuk mengenalkan kearifan lokal, mempererat hubungan antara wisatawan dan masyarakat, serta mendukung keberlanjutan pariwisata desa. Perpaduan antara cita rasa tradisional, suasana pedesaan, dan aktivitas edukatif menjadikan Omahe Simbhok sebagai salah satu daya tarik yang mampu memberikan pengalaman wisata yang berkesan dan bernilai bagi pengunjung. Kata kunci: wisata kuliner, Desa Wisata Pentingsari, kearifan lokal, wisata berbasis masyarakat, Omahe Simbhok.

Peken Klangenan Kotagede Hadirkan Ruang Publik Berbasis Tradisi dan Pelestarian Alam
Peken Klangenan Kotagede hadir sebagai sebuah model ruang publik berkelanjutan dan pasar wisata berbasis budaya di kawasan bersejarah Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. Berawal dari kegelisahan warga terkait minimnya pasar budaya yang inklusif, ruang ini resmi didirikan untuk memadukan unsur tradisi, seni, sejarah, spiritual lokal, serta edukasi pelestarian alam. Berlangsung setiap akhir pekan tanpa tiket masuk, destinasi ini konsisten menarik ratusan pengunjung serta mendapatkan apresiasi dari pemerintah kota karena berhasil menggerakkan ekonomi berbasis komunitas melalui keterlibatan langsung UMKM dan pelestarian kuliner tradisional legendaris. Hal utama yang membedakan pasar ini adalah komitmennya yang kuat terhadap lingkungan melalui penerapan gerakan zero waste. Pengunjung disuguhkan pengalaman "Kembali ke Akar" dengan penyajian kuliner menggunakan kemasan organik seperti daun pisang, gerabah, dan batok kelapa, disertai imbauan meminimalkan sampah non-organik. Selain itu, area pasar diintegrasikan dengan aktivitas ramah lingkungan dan edukasi alam bagi anak-anak. Kehadiran Peken Klangenan Kotagede berhasil membuktikan bahwa pelestarian warisan sejarah dan budaya dapat berjalan selaras serta harmonis dengan upaya menjaga kelestarian bumi demi masa depan lingkungan.

Panduan Penggunaan Portal Jurnal Pariwisata UNY
Penjelasan mengenai bagaimana cara dan alur publikasi artikel pada ruang jelajah pariwisata