Peken Klangenan Kotagede Hadirkan Ruang Publik Berbasis  Tradisi dan Pelestarian Alam
Wisata BudayaVol.1, No.1

Peken Klangenan Kotagede Hadirkan Ruang Publik Berbasis Tradisi dan Pelestarian Alam

Kelompok

Kelompok 7

Diterbitkan

2 Jun 2026

Dilihat

189 kali

Abstrak

Peken Klangenan Kotagede hadir sebagai sebuah model ruang publik berkelanjutan dan pasar wisata berbasis budaya di kawasan bersejarah Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. Berawal dari kegelisahan warga terkait minimnya pasar budaya yang inklusif, ruang ini resmi didirikan untuk memadukan unsur tradisi, seni, sejarah, spiritual lokal, serta edukasi pelestarian alam. Berlangsung setiap akhir pekan tanpa tiket masuk, destinasi ini konsisten menarik ratusan pengunjung serta mendapatkan apresiasi dari pemerintah kota karena berhasil menggerakkan ekonomi berbasis komunitas melalui keterlibatan langsung UMKM dan pelestarian kuliner tradisional legendaris. Hal utama yang membedakan pasar ini adalah komitmennya yang kuat terhadap lingkungan melalui penerapan gerakan zero waste. Pengunjung disuguhkan pengalaman "Kembali ke Akar" dengan penyajian kuliner menggunakan kemasan organik seperti daun pisang, gerabah, dan batok kelapa, disertai imbauan meminimalkan sampah non-organik. Selain itu, area pasar diintegrasikan dengan aktivitas ramah lingkungan dan edukasi alam bagi anak-anak. Kehadiran Peken Klangenan Kotagede berhasil membuktikan bahwa pelestarian warisan sejarah dan budaya dapat berjalan selaras serta harmonis dengan upaya menjaga kelestarian bumi demi masa depan lingkungan.

Yogyakarta – Kawasan bersejarah di Yogyakarta kembali menghadirkan ruang kreatif berbasis budaya melalui kegiatan Peken Klangenan Kotagede yang digelar di kawasan Kampung Pusaka Beteng Cepuri. Bukan sekadar pasar akhir pekan biasa, event yang kini telah menginjak usia satu tahun ini menegaskan dirinya sebagai ruang publik berkelanjutan yang mempertemukan tradisi, seni, edukasi alam, dan kearifan lokal dalam satu ekosistem yang hidup dan inklusif.  

Peken Klangenan Kotagede, pasar wisata berbasis budaya yang berdiri sejak 5 Mei 2025, membuktikan diri sebagai ruang publik yang berhasil mempertemukan pelestarian tradisi dan kelestarian alam, bukan hanya sekadar jargon, melainkan praktik nyata yang dijalankan setiap akhir pekan.

Ide lahirnya Peken Klangenan tidak muncul dari program pemerintah atau agenda besar institusi budaya, melainkan dari rasa gundah seorang warga. Founder PKK, Awang Kagunan, merasa Yogyakarta sebagai kota wisata sekaligus kota seniman selama ini belum memiliki ruang pasar budaya yang benar-benar terbuka dan bisa dinikmati publik secara bebas. Dari kegelisahan itulah ia menggerakkan komunitas untuk mewujudkan ruang yang dibayangkannya.  

Gagasan Awang Kagunan terwujud pada tanggal 5 Mei 2025, ketika Peken Klangenan Kotagede secara resmi didirikan untuk pertama kalinya di Kampung Pusaka Benteng Cepuri, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Lokasi ini tidak dipilih secara kebetulan. Kawasan Benteng Cepuri merupakan bekas ibu kota awal Kesultanan Mataram Islam, sehingga setiap kegiatan yang berlangsung di sini secara langsung berpijak di atas lapisan sejarah yang dalam. 

“Kita sebenarnya tidak sedang membangun pasar, tapi membangun ruang budaya dan ekosistem baru di Kotagede, di mana orang-orang dengan minat seni, tradisi, sejarah, dan spiritual lokal bisa berkumpul,” ujar Awang Kagunan.

Ruang itulah yang kini dikenal sebagai Peken Klangenan Kotagede, bukan sekadar pasar, melainkan ekosistem budaya yang menggabungkan tradisi, seni, sejarah, dan spiritual lokal dalam satu ruang interaktif yang terbuka untuk semua kalangan.  

Sejak didirikan, Peken Klangenan Kotagede terus berkembang dengan menghadirkan agenda-agenda baru setiap penyelenggaraannya. Berdasarkan keterangan Awang, rata-rata sekitar 500 orang mengunjungi lokasi setiap akhir pekan, angka yang bertahan konsisten mencerminkan kuatnya daya tarik ruang budaya ini di tengah masyarakat kota. Peken Klangenan Kotagede digelar setiap Sabtu dan Minggu pukul 08.00-17.00 WIB dan dapat diakses secara gratis tanpa tiket masuk. 

Perkembangan Peken Klangenan Kotagede tidak luput dari perhatian pemerintah. Pada 11 Juli 2025, Wakil Wali Kota Yogyakarta mengunjungi langsung Peken Klangenan Kotagede dalam program Sambang Kampung dan memberikan apresiasi atas semangat warga serta pelaku UMKM lokal dalam menggerakkan ekonomi berbasis komunitas. Hal ini memperkuat posisi Peken Klangenan Kotagede sebagai model ruang publik berbasis budaya yang patut dikembangkan di kota-kota lain. 

Yang membedakan Peken Klangenan dari pasar tematik lainnya adalah perlakuannya terhadap alam. Kebon Ndalem, kebun di dalam kompleks Benteng Cepuri tempat pasar ini berlangsung, dijaga keasriannya dan dilibatkan secara aktif dalam setiap pengalaman yang ditawarkan pengunjung.  

Sejumlah aktivitas dirancang khusus untuk mendekatkan pengunjung kembali kepada alam, mulai dari cetak daun di atas kanvas, menyulam perca, terapi warna, hingga berbagai permainan tradisional yang berbasis lingkungan. Anak-anak mendapat perhatian khusus melalui program edukasi interaktif yang mengajarkan kepekaan terhadap alam sejak dini. 

Peken Klangenan mengusung konsep "Kembali ke Akar" yang diwujudkan tidak hanya melalui alunan musik keroncong dan gending Jawa yang dimainkan secara langsung, tetapi juga melalui komitmen total terhadap kelestarian lingkungan, sehingga pasar wisata berbasis budaya ini berhasil menarik perhatian publik. 

Salah satu gerakan nyata di Peken Klangenan Kotagede ini zero waste, di mana dapat dilihat dari penyajian makanan. Pengunjung dapat berburu kuliner legendaris Kotagede  yang disajikan menggunakan packaging dari bahan organik, seperti pincuk menggunakan daun pisang atau jati, menggunakan mangkuk gerabah dan batok kelapa untuk wadah makanan berkuah (jenang, wedang rempah).

Pengunjung yang datang bahkan diimbau untuk tidak merokok sepanjang area, disarankan untuk mencuci peralatan makan sendiri atau dikembalikan ke tenant penjual, membawa wadah/tumbler/tas belanja dari rumah, minum langsung dari gelas tanpa sedotan, sampah non organik dikembalikan ke penjual atau dibawa pulang. Langkah ini terbukti efektif menekan volume sampah harian pasar dan dapat dijadikannya model percontohan pasar wisata bersih di Yogyakarta.                         

Peken Klangenan menjadi penggerak ekonomi berbasis komunitas yang berdampak langsung pada warga lokal Kotagede. Kuliner tradisional yang sempat tergeser oleh gempuran makanan cepat saji, kini justru mendapat panggung utama di acara ini. Menu-menu legendaris seperti gudeg manggar, jadah manten, hingga jamu tradisional terbukti laku keras dan diburu oleh para pecinta kuliner otentik dari berbagai daerah. Dengan melibatkan pelaku UMKM lokal secara langsung, pasar tradisi ini berhasil menciptakan perputaran ekonomi yang mandiri. Pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja atau melihat pertunjukan yang tersedia di sana, tetapi juga mengapresiasi pembuatan atau pengolahan makanan itu. Sejumlah tenant bahkan masih menggunakan peralatan memasak tradisional. Edukasi langsung mengenai warisan kuliner dan metode pengolahan yang ramah lingkungan inilah yang membedakan pasar ini dengan pasar wisata yang lain.  

Kehadiran Peken Klangenan Kotagede membuktikan bahwa upaya pelestarian budaya tidak harus berdiri berseberangan dengan semangat untuk menjaga kelestarian bumi. Ruang Publik berbasis tradisi ini berhasil mengirimkan pesan yang kuat kepada masyarakat, bahwa kita tetap bisa menikmati, merayakan, dan merawat warisan sejarah masa lalu tanpa harus mengorbankan masa depan lingkungan hidup kita.  

Ketika pasar ini ditutup pada setiap periodenya, tidak boleh ada tumpukan sampah plastik yang menggunung dan merusak estetika di Kotagede. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa organik yang mudah terurai oleh tanah, bersama dengan memori indah para pengunjung yang pulang dan membawa sebuah kesadaran baru. Peken Klangenan Kotagede telah membuktikan diri sebagai salah satu model ruang publik berbasis budaya yang relevan dan berkelanjutan di Yogyakarta, di mana manusia, tradisi, dan alam dapat hidup berdampingan secara harmonis demi kelangsungan generasi yang akan datang.